Blogger Template by Blogcrowds

Politik Pilkada

Sebuah peristiwa yang tidak begitu penting untuk ditulis, tapi karena mau, makanya saya tulis, lagipula ini blog saya. Saya adalah raja disini.:-)
Kini saatnya kembali bercuap cuap panjang lebar, tapi sebelumnya saya minta maaf jika ada yang merasa terganggu
---------------------------------------------------------------------------------------

Terdengar sebuah suara dari alat pengeras suara Mesjid dekat rumah. Bukan suara Adzan pastinya, karena menggunakan bahasa Indonesia dan nadanya tidaklah indah. Lagipula Shalat Isya baru saja selesai dilaksanakan, dan waktu Sholat Subuh juga masih lama. Oh, Itu adalah suara salah seorang pengurus Mesjid yang menghimbau warga kompleks untuk datang ke sana, katanya ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan. Mencoba menjadi warga yang baik, makanya meniatkan datang ke sana secepatnya, sehingga hidangan makan malampun tidak bisa diresapi.

Sudah banyak warga yg berkumpul,membentuk sebuah lingkaran besar, bercampur semuanya. tak ada pembatas antara pria dan wanita atau istilah lainnya tdk ada hijab antara ikhwan dan akhwat. Saya memilih untuk duduk dekat pintu saja karena suhu udara malam yg panas, juga karena kalau nanti tiba tiba saya diserang rasa kantuk dan jenuh, tinggal melangkah beberapa centimeter , tubuh saya sudah bisa berada di luar mesjid.

Pas duduk bersila, nampak di depan saya duduk seseorang yang.........,yang........kayaknya saya kenal.......eh, itu...anu.....yang biasa saya lihat photonya di baliho baliho besar di perempatan kota,iya benar sekali. ini dia orangnya, salah seorang dari beberapa orang yg berkeinginan memimpin Kota Makassar. Pasti.....pasti.....mau berkampanye di sini. Di Mesjid, Tempat ibadah saya, tempat Ibadahnya orang Muslim. Saya kecele, rasanya Mau pulang tidur saja di rumah, tapi alangkah tidak sopannya juga kalau saya tiba tiba beranjak keluar, setidaknya menghormati Pak Haji sebagai orang yang dituakan,sebagai Pembina Remaja Mesjid Baiturrahman, Biarkan saja diri saya tetap disini, paling paling masuk di telinga kanan keluar di telinga kiri, karena memang saya tidak telalu tertarik sama yg namanya begini beginian,(politik politikan), ya...hitung hitung juga bisa melihat bagaimana cara orang ini berkampanye, mati matian meyakinkan orang. Terakhir saya ikut kegiatan propaganda seperti ini waktu kelas 6 SD, waktu itu, oleh guru kami, semua siswa digiring ke sebuah lapangan menyaksikan penampilan Harmoko berduet dengan seorang artis ibu kota berkoar koar di atas panggung yg berlatar belakang gambar pohon beringin. Dan sepertinya malam ini akan menjadi yang kedua kalinya.

"Sebenarnya kedatangan kami disini bukan untuk berkampanye, melainkan untuk memberikan informasi dan penerangan terkait dengan pelaksanaan pilkada, masyarakat harus cermat dalam memilih, jangan sampai asal pilih saja". Begitu kira kira salah satu kalimat pembuka orang itu, Beliau, Sang calon, yang ditanggapi oleh beberapa warga dengan manggut manggut. Ngomong panjang lebar dengan alunan retorika yang mengucur deras, sesekali diiringi teriakan dukungan dan tepuk tangan beberapa warga. Saya yakin beberapa warga itu adalah pendukungnya, karena kalau tidak, bodoh sekali mereka mau berteriak dan melakukan aksi tepuk tangan, di dalam Mesjid pula,dan alangkah lebih bodohya lagi mereka yg cuma hanya ikut2an meneriakkan dukungan. Mereka mungkin khilaf atau tidak tahu tentang apa yg mereka lakukan ( Ya Allah beritahulah mereka dengan cara-MU sendiri agar mereka tahu fungsi Mesjid yang sebenarnya. dan Ampunilah saya yang sangat lemah). Intinya, selama kurang lebih 30 menit, Sang Calon ini mengungkapkan kelebihan kelebihan diri, bahwa beliau spesial dibandingkan dengan calon lainnya. Sebuah alasan klasik bahwa beliau masih memiliki jadwal di tempat lainnya menjadi penutup acara itu setelah sebelumnya masih sempat menjawab sebuah pertanyaan dari Ketua RT sebagai wakil dari warga dan sebuah janji bahwa beliau akan membangun menara mesjid kompleks kami. (semacam suapkah yg seperti ini?, Ingat, yang disuap dan menyuap sama sama masuk neraka. Naudzubillah).

Dan Seandainya saja saya tadi ditodong, dipaksa untuk bertanya sesuatu hal kepada beliau, barangkali saya akan berkata; "Apakah bapak benar benar Ikhlas berdoa , meminta kepada Allah agar Kota Makassar terhindarkan dari Murka-NYA ketika Bapak berada di padang Arafah ? Seperti yang pernah saya baca di spanduk spanduk Bapak yang tersebar beberapa bulan yg lalu, bahwa Bapak telah berdoa untuk kota kami?".

Sebenarnya Saya tidak mengharapkan jawaban atas pertanyaan itu, karena ikhlas adalah permainan hati, bukan pada ucapan di lidah,apalagi yang tertoreh pada sebuah spanduk dan baliho. Biarkan hati saja yang menjawabnya.


2 Comments:

  1. uNieQ said...
    bukan ji cc yg kampanye toh??? hahaha ya iyalah..karena cc maennya ga d masjid..merusak ibadah orang aja...maen diblog donk hahahhhahah

    btw,kasihanmu itu terjebakmi sede dengan retorika..selamat ya??

    jangan lupa cobloski..sudah mi na doakan makassar..:D
    si dede jadul punya said...
    namanya jg usaha.. abis isya di malam buta juga ga masalah..
    hwehe..
    tapi yg saya pertanyakan, bagaimana ya perasaan mereka2 yg kalah setelah tekor bermilyar2..?
    poor them!

Post a Comment



Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda